Klenteng Gie Yong Bio, Simbol Persatuan Jawa-Tionghoa di Lasem

Klenteng Gie Yong Bio merupakan salah satu dari tiga klenteng bersejarah di Lasem, Kabupaten Rembang. Klenteng ini dikenal sebagai simbol persatuan masyarakat Jawa dan Tionghoa karena didirikan untuk menghormati tiga pahlawan Lasem yang bersama-sama melawan VOC.

Dibandingkan dua klenteng lainnya di Lasem, lokasi Gie Yong Bio relatif mudah ditemukan. Dari jalan raya utama yang menghubungkan Lasem dan Rembang, pengunjung dapat melihat papan penunjuk menuju klenteng.

Klenteng Gie Yong Bio beralamat di Jalan Babagan No. 7, Desa Babagan, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Lokasinya berada di sebelah selatan kawasan Kampung BNI Batik Tulis Lasem.

Sejarah Klenteng Gie Yong Bio

Klenteng Gie Yong Bio diperkirakan dibangun pada 1780. Berdasarkan cerita yang berkembang, bangunan klenteng pada awalnya berada lebih dekat dengan jalan raya dan menghadap ke arah timur.

Perubahan kemudian terjadi setelah Jalan Raya Pos atau Groote Postweg semakin ramai. Jalan tersebut juga dikenal sebagai Jalan Daendels dan menjadi salah satu jalur penting yang melintasi kawasan Lasem.

Ketika klenteng diperbaiki pada 1915, orientasi bangunannya diubah agar menghadap ke arah utara atau ke jalan raya. Perubahan tersebut membuat bagian depan Klenteng Gie Yong Bio lebih terhubung dengan jalur utama perkembangan kota Lasem.

Mengenang Tiga Pahlawan Lasem

Keistimewaan Klenteng Gie Yong Bio terletak pada tokoh-tokoh yang dihormati di dalamnya. Klenteng ini didirikan untuk mengenang perjuangan tiga pahlawan Lasem, yaitu Tan Kee Wie, Oey Ing Kiat, dan Raden Panji Margono.

Ketiganya dikenal sebagai tokoh yang memimpin perlawanan masyarakat Lasem terhadap VOC pada sekitar 1741–1750. Perlawanan tersebut dalam sejarah setempat dikenal sebagai Perang Godou Balik dan menjadi bagian penting dari perjalanan Lasem pada masa kolonial.

Perjuangan mereka memperlihatkan bahwa masyarakat Jawa dan Tionghoa di Lasem pernah bersatu menghadapi musuh yang sama. Perbedaan latar belakang tidak menghalangi ketiganya untuk bekerja sama dalam mempertahankan Lasem dari kekuasaan VOC.

Perjuangan Tan Kee Wie

Tan Kee Wie dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam perlawanan terhadap VOC. Ia memimpin perjuangan melalui jalur laut bersama armadanya.

Dalam pertempuran tersebut, armada Tan Kee Wie diserang oleh VOC di selat antara Ujung Watu dan Pulau Mandalika. Kapalnya tenggelam setelah terkena tembakan meriam, dan Tan Kee Wie kemudian gugur dalam perjuangan.

Kisah keberaniannya terus dikenang oleh masyarakat Lasem dan menjadi bagian dari sejarah yang diabadikan di Klenteng Gie Yong Bio.

Oey Ing Kiat dan Raden Panji Margono

Oey Ing Kiat merupakan tokoh Tionghoa yang pernah memegang kedudukan penting di Lasem. Ia dikenal dengan gelar Raden Ngabehi Widyaningrat dan dalam sejumlah catatan disebut pernah menjadi Adipati Lasem serta pemimpin masyarakat Tionghoa.

Dalam perjuangan melawan VOC, Oey Ing Kiat dikisahkan gugur di kawasan Layur. Sementara itu, Raden Panji Margono, seorang bangsawan Jawa, gugur di Karangpace, Narukan.

Meskipun berasal dari latar belakang budaya yang berbeda, ketiga tokoh tersebut dipersatukan oleh tujuan yang sama. Persahabatan dan perjuangan mereka kemudian menjadi simbol hubungan erat antara masyarakat Jawa dan Tionghoa di Lasem.

Raden Panji Margono sebagai Kong Co Jawa

Untuk menghargai jasa ketiga pahlawan tersebut, masyarakat Tionghoa Lasem membangun Klenteng Gie Yong Bio sebagai tempat penghormatan sekaligus monumen peringatan.

Tan Kee Wie, Oey Ing Kiat, dan Raden Panji Margono kemudian dihormati sebagai Kong Co. Rupang Tan Kee Wie dan Oey Ing Kiat ditempatkan berdampingan, sedangkan rupang Raden Panji Margono berada pada altar khusus yang terpisah.

Penghormatan kepada Raden Panji Margono menjadi salah satu keunikan Klenteng Gie Yong Bio. Sebagai tokoh Jawa, ia dikenal dengan sebutan “Kong Co Jawa” dan dipercaya sebagai salah satu figur pribumi yang sangat istimewa dalam tradisi klenteng di Indonesia.

Keberadaan rupangnya menunjukkan bahwa penghormatan di Gie Yong Bio tidak dibatasi oleh latar belakang etnis. Jasa, keberanian, persahabatan, dan perjuangan bersama menjadi nilai utama yang diwariskan.

Karena itulah, Klenteng Gie Yong Bio dikenal sebagai “Klenteng Pembauran”. Tempat ini menjadi simbol hubungan harmonis antara masyarakat Jawa dan Tionghoa yang telah tumbuh di Lasem selama berabad-abad.

Arsitektur Klenteng Gie Yong Bio

Klenteng Gie Yong Bio tidak memiliki ukuran bangunan yang terlalu besar, tetapi mempunyai halaman luas dan dikelilingi pagar. Dari halaman depan, pengunjung akan menjumpai sebuah gerbang bergaya Tiongkok yang didominasi warna merah muda.

Di bagian depan gerbang terdapat sepasang patung singa penjaga yang menghadap ke arah berbeda. Dalam tradisi arsitektur Tiongkok, patung singa biasanya ditempatkan sebagai simbol perlindungan dan penjaga kawasan suci.

Setelah melewati gerbang, pengunjung akan memasuki halaman bangunan utama. Tepat di depan pintu masuk terdapat hiolo berbahan kuningan yang digunakan sebagai tempat menancapkan hio atau dupa saat bersembahyang.

Bagian dalam bangunan utama memiliki sejumlah altar yang digunakan untuk kegiatan peribadatan. Berbagai ornamen, warna, dan benda ritual di dalamnya memperlihatkan karakter khas sebuah klenteng bersejarah.

Tempat Ibadah Umat Tri Dharma

Klenteng Gie Yong Bio merupakan tempat ibadah bagi penganut Tri Dharma. Dengan demikian, klenteng ini berfungsi sebagai ruang peribadatan yang menaungi tradisi Buddha, Tao, dan Konfusianisme.

Selain altar untuk menghormati Tan Kee Wie, Oey Ing Kiat, dan Raden Panji Margono, terdapat pula altar sejumlah tokoh dan dewa yang dimuliakan.

Di antaranya adalah Hok Tek Ceng Sin atau Dewa Bumi, Konfusius, Lao Tzu, serta Kuan Yin yang dikenal sebagai Dewi Welas Asih. Keberadaan berbagai altar tersebut memperlihatkan fungsi integratif Klenteng Gie Yong Bio sebagai tempat ibadah dan ruang spiritual bagi masyarakat.

Warisan Toleransi dari Lasem

Klenteng Gie Yong Bio bukan hanya menyimpan sejarah perlawanan terhadap VOC. Klenteng ini juga menyampaikan pesan tentang persahabatan, persatuan, dan toleransi antarmasyarakat.

Penghormatan terhadap dua tokoh Tionghoa dan seorang bangsawan Jawa di dalam satu klenteng menjadi gambaran nyata kehidupan multikultural Lasem. Warisan tersebut tetap relevan hingga sekarang, terutama dalam menjaga keharmonisan di tengah perbedaan budaya dan kepercayaan.

Bagi wisatawan, mengunjungi Klenteng Gie Yong Bio dapat menjadi kesempatan untuk mengenal sisi lain sejarah Lasem. Pengunjung tidak hanya dapat melihat arsitektur dan altar di dalamnya, tetapi juga memahami kisah perjuangan bersama yang membentuk identitas kota ini.

Karena masih aktif digunakan sebagai tempat ibadah, pengunjung perlu menjaga ketenangan, mengenakan pakaian yang sopan, mematuhi tata tertib, serta menghormati umat yang sedang bersembahyang.

Jika ingin mengenal lebih dalam kisah Klenteng Gie Yong Bio dan mengunjungi berbagai destinasi bersejarah lainnya, Anda dapat mengikuti perjalanan wisata bersama Rumah Merah Heritage Lasem. Setelah menjelajahi kekayaan budaya, kuliner, dan kawasan Pecinan Lasem, Anda juga dapat menginap di Rumah Merah Heritage Lasem dan merasakan suasana bangunan bersejarah di tengah kota yang dikenal dengan nilai toleransinya.

Telah dibaca sebanyak 18 kali
Bagikan: WhatsApp Telegram

Klenteng Gie Yong Bio, Simbol Persatuan Jawa-Tionghoa di Lasem | Rumah Merah Heritage Lasem
Hubungi Kami