Klenteng Poo An Bio, Jejak Pecinan Tua di Karangturi Lasem

Klenteng Poo An Bio merupakan salah satu dari tiga klenteng bersejarah yang menjadi bagian penting dari kawasan Pecinan Lasem. Klenteng ini terletak di Jalan Karangturi VII No. 13–15, Desa Karangturi, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah.

Lokasinya berada di sebelah timur Balai Kedamaian atau Vihara Maha Karuna. Meskipun berdiri di tepi jalan perkampungan, Klenteng Poo An Bio tetap memancarkan kemegahan melalui arsitektur, altar, dan lukisan-lukisan klasik yang tersimpan di dalamnya.

Sejarah Klenteng Poo An Bio

Klenteng Poo An Bio diperkirakan telah berdiri sejak 1740. Keberadaan klenteng ini berkaitan erat dengan perkembangan permukiman masyarakat Tionghoa di Lasem.

Pada masa sebelumnya, komunitas Tionghoa banyak bermukim di sekitar Sungai Lasem dan jalan arteri yang membentang dari barat ke timur. Seiring bertambahnya jumlah penduduk dan berkembangnya kegiatan perdagangan, kawasan permukiman tersebut meluas ke arah selatan hingga mencapai Sungai Kemendung di Desa Karangturi.

Di sebelah utara Sungai Kemendung inilah Klenteng Poo An Bio kemudian didirikan. Lokasinya memperlihatkan hubungan erat antara tempat ibadah, permukiman, jalur perdagangan, dan kehidupan masyarakat Tionghoa Lasem pada masa itu.

Klenteng dan Perkembangan Pecinan Karangturi

Pendirian Klenteng Poo An Bio tidak dapat dipisahkan dari tumbuhnya Pecinan Karangturi. Bagi masyarakat Tionghoa yang hidup di perantauan, klenteng menjadi tempat beribadah sekaligus ruang berkumpul dan menjaga hubungan sosial.

Klenteng juga menjadi tempat untuk mempertahankan tradisi, menghormati leluhur, dan memohon perlindungan dalam menjalani kehidupan di tempat baru. Karena itu, keberadaan Poo An Bio menjadi salah satu penanda berkembangnya komunitas Tionghoa di bagian selatan Lasem.

Hingga sekarang, kawasan Karangturi masih dikenal dengan rumah-rumah tua, tradisi batik tulis, kuliner khas, dan berbagai peninggalan budaya Tionghoa. Klenteng Poo An Bio menjadi salah satu bagian penting yang membentuk identitas kawasan tersebut.

Penghormatan kepada Kong Tik Cun Ong

Tokoh utama yang dihormati di altar utama Klenteng Poo An Bio adalah Kong Tik Cun Ong. Ia juga dikenal dengan nama Guangze Zunwang dan dipercaya sebagai sosok pelindung bagi orang-orang yang hidup atau melakukan perjalanan di perantauan.

Dalam tradisi masyarakat Tionghoa, para leluhur yang meninggalkan tanah kelahirannya sering membawa rupang atau simbol Kong Tik Cun Ong. Rupang tersebut tidak hanya disimpan, tetapi juga dihormati dan menjadi bagian dari kegiatan peribadatan.

Tradisi serupa dipercaya dijalankan oleh para pendatang Tionghoa yang kemudian menjadi leluhur masyarakat Tionghoa Lasem. Mereka memohon perlindungan dan keselamatan kepada Kong Tik Cun Ong selama menjalani kehidupan jauh dari tanah asal.

Penghormatan tersebut kemudian diteruskan oleh generasi berikutnya. Karena itu, rupang Kong Tik Cun Ong ditempatkan pada altar utama dan menjadi bagian penting dari kehidupan spiritual di Klenteng Poo An Bio.

Menghadap ke Sungai Kemendung

Bangunan Klenteng Poo An Bio menghadap ke arah selatan, tepatnya menuju Sungai Kemendung. Orientasi ini berkaitan dengan peran penting sungai sebagai jalur transportasi pada masa lalu.

Sebelum Jalan Raya Pos atau Groote Postweg dibangun, Sungai Kemendung menjadi salah satu urat nadi transportasi di Lasem. Sungai tersebut terhubung dengan Sungai Lasem yang kemudian mengarah menuju pelabuhan.

Setiap hari, masyarakat dan pedagang menggunakan jalur sungai untuk mengangkut barang dan melakukan perjalanan. Aktivitas tersebut membuat kawasan di sekitar Sungai Kemendung menjadi bagian penting dari kehidupan ekonomi dan sosial masyarakat Lasem.

Arah bangunan Klenteng Poo An Bio yang menghadap sungai menunjukkan bahwa pusat kehidupan Lasem pada masa itu tidak hanya berkembang di sekitar jalan darat. Sungai memiliki peran besar dalam membentuk permukiman, perdagangan, dan perkembangan kawasan Pecinan Karangturi.

Arsitektur Gerbang yang Simetris

Salah satu bagian menarik dari Klenteng Poo An Bio adalah gerbang utamanya atau shan men. Bentuk gerbang memperlihatkan susunan tiga bidang persegi yang simetris.

Bagian tengah gerbang dibuat lebih tinggi, sedangkan bagian kiri dan kanan mempunyai ukuran yang sama. Komposisi tersebut menciptakan keseimbangan visual yang sering dikaitkan dengan prinsip Yin dan Yang dalam kebudayaan Tionghoa.

Pada arsitektur klenteng, bagian atas shan men biasanya dihiasi sepasang naga yang saling berhadapan. Di antara kedua naga tersebut umumnya terdapat huo zhu atau mutiara menyala yang melambangkan kebijaksanaan, kekuatan spiritual, dan kesempurnaan.

Namun, bentuk hewan pada bagian gerbang Klenteng Poo An Bio tidak terlihat jelas seperti naga pada umumnya. Keunikan ini menjadi salah satu ciri yang membedakannya dari gerbang sejumlah klenteng lainnya.

Di sisi kiri dan kanan gerbang terdapat patung singa penjaga. Dalam tradisi arsitektur Tiongkok, sepasang singa tersebut dipercaya sebagai simbol perlindungan dan penjaga tempat suci.

Hiolo dan Tempat Pembakaran Kertas Sembahyang

Setelah melewati shan men, pengunjung dapat menoleh ke sisi kanan untuk melihat kim lo, yaitu tempat pembakaran kertas sembahyang. Kim lo di Klenteng Poo An Bio memiliki bentuk menyerupai botol dan didominasi warna merah.

Jika berjalan menuju bangunan utama, pengunjung akan menjumpai sepasang patung singa yang didampingi figur dewa penjaga. Tepat di depan pintu masuk utama terdapat hiolo berbahan kuningan.

Hiolo digunakan sebagai tempat menancapkan hio atau dupa ketika umat bersembahyang. Keberadaan kim lo, patung penjaga, dan hiolo menjadi satu rangkaian penting dalam tata ruang serta kegiatan ritual di dalam kompleks klenteng.

Lukisan Klasik Menggunakan Mo Pit

Salah satu keistimewaan Klenteng Poo An Bio terdapat pada lukisan-lukisan yang menghiasi dinding bagian dalamnya. Lukisan tersebut dibuat menggunakan mo pit atau kuas tradisional dengan tinta bak berwarna hitam.

Torehan kuas yang terperinci menghasilkan komposisi gambar yang hidup. Selain memiliki nilai artistik, setiap lukisan membawa cerita dan ajaran moral yang diwariskan melalui karya sastra klasik Tiongkok.

Keberadaan lukisan tersebut membuat Poo An Bio tidak hanya penting sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai ruang untuk mempelajari seni rupa, sastra, dan nilai-nilai budaya Tionghoa.

Kisah Sam Kok di Dinding Klenteng

Sebagian lukisan di Klenteng Poo An Bio menggambarkan kisah Tiga Negara yang dikenal sebagai Sam Kok atau Romance of the Three Kingdoms.

Sam Kok mengisahkan pergolakan politik, peperangan, persahabatan, kesetiaan, dan perebutan kekuasaan menjelang berakhirnya Dinasti Han. Beberapa tokoh yang paling dikenal dalam cerita tersebut adalah Liu Bei, Guan Yu atau Kwan Kong, serta Zhang Fei.

Ketiga tokoh itu terkenal melalui sumpah persaudaraan dan perjuangan mereka dalam menghadapi berbagai peperangan. Kisahnya mengandung pesan tentang keberanian, kesetiaan, strategi, tanggung jawab, dan pengabdian.

Selain cerita Sam Kok, sejumlah lukisan di dalam Poo An Bio juga menggambarkan tokoh serta cerita rakyat yang sarat pesan moral. Salah satunya berkaitan dengan Yue Fei, seorang jenderal pada masa Dinasti Song yang dikenal karena keberanian dan kesetiaannya kepada negara.

Jejak Sejarah di Tepi Sungai Kemendung

Klenteng Poo An Bio bukan hanya bangunan tempat ibadah. Klenteng ini menjadi saksi perkembangan Pecinan Karangturi, perubahan jalur transportasi, serta kehidupan masyarakat Tionghoa Lasem sejak berabad-abad lalu.

Letaknya yang menghadap Sungai Kemendung mengingatkan bahwa sungai pernah menjadi pusat kegiatan masyarakat sebelum perkembangan Jalan Raya Pos mengubah arah pertumbuhan kota. Sementara itu, penghormatan kepada Kong Tik Cun Ong menggambarkan harapan para perantau akan perlindungan dan keselamatan di tempat baru.

Arsitektur gerbang yang simetris, patung penjaga, altar, hiolo, serta lukisan klasik pada dindingnya menjadikan Poo An Bio sebagai salah satu destinasi penting untuk mengenal sejarah dan budaya Lasem.

Karena masih berfungsi sebagai tempat ibadah, pengunjung perlu menjaga ketenangan, mengenakan pakaian yang sopan, menaati peraturan, serta menghormati umat yang sedang bersembahyang.

Jika ingin mengetahui lebih dalam sejarah Klenteng Poo An Bio dan menyusuri kawasan Pecinan Karangturi, Anda dapat mengikuti perjalanan wisata bersama Rumah Merah Heritage Lasem. Setelah menjelajahi klenteng, rumah-rumah tua, sentra batik, dan kuliner khas Lasem, Anda juga dapat menginap di Rumah Merah Heritage Lasem untuk merasakan suasana bangunan bersejarah di tengah kawasan yang kaya akan budaya.

Telah dibaca sebanyak 25 kali
Bagikan: WhatsApp Telegram

Klenteng Poo An Bio, Jejak Pecinan Tua di Karangturi Lasem | Rumah Merah Heritage Lasem
Hubungi Kami