Klenteng Tjoe An Kiong Lasem. Klenteng Tertua dengan Mural 100 Panel

Lasem dikenal sebagai salah satu kawasan pecinan bersejarah yang penting di pesisir utara Jawa. Lanskap Pecinan Lasem memiliki tiga klenteng yang menjadi poros kehidupan spiritual sekaligus daya tarik budaya, yaitu Klenteng Tjoe An Kiong di kawasan Dasun, Klenteng Poo An Bio di Karangturi, dan Klenteng Gie Yong Bio di Babagan.

Di antara ketiganya, Klenteng Tjoe An Kiong dikenal sebagai klenteng tertua di Lasem. Klenteng berlanggam klasik Fujian ini juga disebut Ci An Gong, yang berarti “Istana Kebajikan dan Kedamaian”.

Sejarah Klenteng Tjoe An Kiong Lasem

Klenteng Tjoe An Kiong beralamat di Jalan Dasun No. 19, Desa Soditan, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Klenteng ini diperkirakan telah berdiri sejak sekitar abad ke-15, meskipun belum ditemukan catatan pasti mengenai waktu peletakan batu pertamanya.

Sejumlah catatan inskripsi menyebutkan bahwa Klenteng Tjoe An Kiong pernah dipugar pada 1838. Pemugaran besar juga dilakukan pada 1869. Perjalanan panjang tersebut menjadikan Tjoe An Kiong sebagai salah satu bangunan bersejarah yang merekam perkembangan masyarakat Tionghoa di Lasem.

Dewi Ma Zu sebagai Dewa Utama

Dewa utama yang dipuja di Klenteng Tjoe An Kiong adalah Ma Zu atau Thian Siang Sing Bo, yang juga dikenal sebagai Mak Co, Tian Hou, dan Ma Zu Po. Ia merupakan Dewi Laut yang dihormati oleh para nelayan, pelaut, dan perantau Tionghoa.

Para pemujanya percaya bahwa Ma Zu memberikan perlindungan kepada orang-orang yang melakukan perjalanan melintasi lautan. Mereka memanjatkan doa agar memperoleh keselamatan dan cuaca yang bersahabat selama berlayar.

Sebelum dimulainya musim melaut, para nelayan dan pelaut biasanya mengadakan sembahyang penghormatan kepada Ma Zu. Perayaan penting juga dilaksanakan setiap tanggal 23 bulan ketiga dalam kalender Imlek, yang dipercaya sebagai hari kelahiran Ma Zu.

Dalam pelaksanaan sembahyang, umat menyalakan lilin dan dupa cendana, mempersembahkan berbagai hidangan, serta memanjatkan doa untuk memohon keselamatan. Bagi masyarakat Tionghoa Indonesia, khususnya warga Lasem, Ma Zu memiliki kedudukan yang sangat dihormati. Figur Ma Zu ditempatkan di altar utama Klenteng Tjoe An Kiong.

Pengunjung yang datang perlu menghormati tata tertib dan kesakralan tempat ibadah. Salah satunya adalah larangan atau pantangan mengabadikan figur Ma Zu dengan kamera.

Arsitektur Klasik Fujian

Klenteng Tjoe An Kiong mempunyai bentuk bangunan yang memperlihatkan pengaruh arsitektur Tiongkok bagian selatan, khususnya langgam Fujian. Kompleks bangunannya ditata dalam bentuk persegi empat yang dikenal sebagai siheyuan.

Salah satu ciri arsitekturnya adalah penggunaan atap ekor walet. Jenis atap ini dikenal sebagai atap ying shan dengan bentuk yinwei xing. Ujung atapnya melengkung ke atas sehingga menyerupai ekor burung walet.

Atap ekor walet menjadi populer pada masa Dinasti Qing, antara 1644 hingga 1911. Menurut aturan arsitektur tradisional Tiongkok, bentuk tersebut umumnya digunakan pada bangunan kuil dan kantor pemerintahan.

Namun, pengaruh arsitektur ini berkembang secara khas di Lasem. Beberapa rumah tua di kawasan Pecinan Lasem juga memiliki atap berbentuk ekor walet. Bagian atap dan bangunannya dihiasi berbagai ornamen yang melambangkan keberuntungan serta dipercaya sebagai penolak bala.

Simbol Yin dan Yang dalam Bangunan Klenteng

Bangunan utama Klenteng Tjoe An Kiong dipenuhi beragam ornamen simbolis. Setiap bentuk, warna, dan ragam hias tidak hanya berfungsi sebagai dekorasi, tetapi juga menyimpan nilai filosofis.

Berbagai ornamen tersebut menggambarkan keseimbangan prinsip Yin dan Yang serta harapan akan kehidupan yang dipenuhi kebajikan, keselamatan, keharmonisan, dan kesejahteraan.

Selain ornamen arsitektur, pengunjung dapat menemukan mural dewa-dewi dan rangkaian mural monokrom yang memenuhi bagian dalam klenteng. Mural inilah yang menjadi salah satu keistimewaan Klenteng Tjoe An Kiong dibandingkan klenteng-klenteng bersejarah lainnya di Indonesia.

Mural 100 Panel Fengshen Yanyi

Dinding bagian dalam Klenteng Tjoe An Kiong dihiasi mural monokrom hitam putih yang sangat terperinci. Mural tersebut berbeda dengan sejumlah klenteng besar di Indonesia yang banyak menampilkan kisah Roman Tiga Negara.

Mural di Tjoe An Kiong menggambarkan rangkaian cerita dari 100 panel Fengshen Yanyi. Karya ini juga dikenal dengan nama Fengshenbang atau Kisah Penganugerahan Para Dewa.

Fengshen Yanyi merupakan karya sastra klasik yang sering dikaitkan dengan Xu Zhonglin. Cerita tersebut berkembang pada masa Dinasti Ming dan memadukan unsur mitologi, sejarah, cerita rakyat, legenda, serta fantasi.

Kisahnya mengambil latar pada masa akhir Dinasti Shang dan awal kebangkitan Dinasti Zhou. Cerita berpusat pada kejatuhan penguasa terakhir Dinasti Shang dan perjuangan Raja Wu dari Zhou. Perjalanan tersebut melibatkan para pahlawan, ahli strategi, dewa-dewi, roh, serta berbagai makhluk mitologis.

Setiap adegan digambarkan melalui torehan tinta yang detail pada dinding klenteng. Komposisi tokoh, gerakan, dan suasana dalam mural membuat rangkaian ceritanya terasa hidup. Keberadaan 100 panel tersebut menjadikan Klenteng Tjoe An Kiong sebagai salah satu tempat penting untuk mempelajari seni mural dan mitologi Tionghoa di Lasem.

Kuplet dan Papan Bertuliskan Pesan Moral

Klenteng Tjoe An Kiong juga menyimpan beragam kuplet serta papan bertuliskan peribahasa dan pesan-pesan moral. Sebagian di antaranya dibuat pada masa pemerintahan Kaisar Guangxu dari Dinasti Qing, sekitar 1875 hingga 1908.

Tulisan-tulisan tersebut mengandung harapan akan keselamatan, kebajikan, keharmonisan, dan keindahan hidup. Selain memiliki nilai artistik, kuplet dan papan tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan sejarah klenteng.

Keindahan Klenteng Tjoe An Kiong tidak hanya terlihat dari bentuk bangunannya. Setiap mural, ornamen, altar, kuplet, dan simbol di dalamnya menyimpan nilai filosofis serta pesan moral yang diwariskan lintas generasi. Berbagai kisah magis dan mistis yang berkembang di tengah masyarakat juga menambah daya tarik klenteng ini.

Mengunjungi Klenteng Tertua di Lasem

Klenteng Tjoe An Kiong bukan sekadar tempat ibadah, tetapi juga menjadi bagian penting dari sejarah dan identitas budaya Lasem. Arsitektur klasik Fujian, penghormatan kepada Dewi Ma Zu, mural 100 panel Fengshen Yanyi, serta berbagai ornamen simbolis menjadikan klenteng ini menarik untuk dikunjungi dan dipelajari.

Saat berkunjung, wisatawan tetap perlu menjaga ketenangan, mengenakan pakaian yang sopan, mematuhi aturan pengelola, serta menghormati umat yang sedang beribadah.

Jika ingin menjelajahi Klenteng Tjoe An Kiong dan berbagai destinasi bersejarah lainnya, Anda dapat mengikuti perjalanan wisata bersama Rumah Merah Heritage Lasem. Setelah menyusuri kawasan Pecinan dan mengenal kekayaan budaya Lasem, Anda juga dapat menginap di Rumah Merah Heritage Lasem untuk merasakan suasana bangunan bersejarah yang menjadi bagian dari perjalanan panjang kota ini.

Telah dibaca sebanyak 13 kali
Bagikan: WhatsApp Telegram

Klenteng Tjoe An Kiong Lasem. Klenteng Tertua dengan Mural 100 Panel | Rumah Merah Heritage Lasem
Hubungi Kami