Kue yopia merupakan salah satu kuliner khas Lasem, Kabupaten Rembang, yang telah bertahan selama ratusan tahun. Kue berbentuk bundar dengan kulit berwarna putih ini menyimpan isian gula Jawa yang manis dan legit.
Resep kue yopia diwariskan secara turun-temurun dalam keluarga pembuatnya. Hingga saat ini, tradisi pembuatannya telah diteruskan sampai generasi keempat. Keberadaannya bukan hanya menjadi bagian dari kekayaan kuliner Lasem, tetapi juga menjadi warisan budaya masyarakat Tionghoa dan Jawa yang tumbuh bersama di kawasan tersebut.
Kue Yopia dari Pecinan Karangturi
Jejak awal pembuatan kue yopia di Lasem dapat ditemukan di Desa Karangturi, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang. Kawasan ini dikenal sebagai bagian dari Pecinan Lasem yang memiliki deretan rumah tua, bangunan bersejarah, serta kehidupan masyarakat dengan pengaruh budaya Tionghoa yang kuat.
Karakter budaya dan sejarahnya membuat Lasem kerap dijuluki sebagai “Tiongkok Kecil” di pesisir utara Jawa. Di tengah kawasan bersejarah tersebut, tradisi pembuatan kue yopia terus bertahan dan diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.
Bagi masyarakat Lasem dan Rembang, kue yopia juga identik dengan perayaan Tahun Baru Imlek. Menjelang Imlek, permintaan kue ini biasanya meningkat karena banyak warga menjadikannya sebagai sajian keluarga, suguhan untuk tamu, atau oleh-oleh khas Lasem.
Warisan Keluarga Tan Tjiem Liang
Perintis usaha pembuatan kue yopia di Karangturi dipercaya bernama Tan Tjiem Liang. Ia mulai membuat kue yopia sejak sekitar tahun 1800-an, kemudian mewariskan resep dan cara pembuatannya kepada anak-anaknya.
Pengetahuan tersebut terus diteruskan di dalam keluarga hingga sampai kepada generasi keempat, Toni Haryanto. Bersama ibu dan anggota keluarganya, Toni melanjutkan tradisi pembuatan kue yopia agar kuliner yang telah dirintis oleh leluhurnya tetap lestari dan dapat terus dinikmati masyarakat.
Bagi keluarga pembuatnya, resep yopia bukan sekadar cara membuat makanan. Di dalamnya tersimpan perjalanan keluarga, ketekunan, serta upaya mempertahankan warisan kuliner Lasem di tengah perubahan zaman.
Perpaduan Budaya Tionghoa dan Jawa
Kue yopia sering dipandang sebagai salah satu bentuk akulturasi kuliner Tionghoa dan Jawa di Lasem. Penggunaan tepung terigu pada bagian kulit mencerminkan pengaruh kuliner Tionghoa, sedangkan isiannya menggunakan gula Jawa yang sangat dekat dengan tradisi makanan masyarakat setempat.
Perpaduan tersebut menghasilkan kue dengan tampilan sederhana, tetapi memiliki rasa yang khas. Kulitnya terasa lembut sekaligus sedikit renyah setelah dipanggang, sementara bagian dalamnya berisi gula Jawa yang meleleh dan memberikan rasa manis.
Karakter inilah yang membuat kue yopia berbeda dari jajanan tradisional lainnya. Rasanya tidak hanya membawa kenikmatan, tetapi juga menggambarkan pertemuan dua budaya yang telah hidup berdampingan selama berabad-abad di Lasem.
Proses Pembuatan Dimulai Sejak Dini Hari
Pembuatan kue yopia biasanya dimulai pada dini hari, sekitar pukul 02.00 WIB. Waktu tersebut dianggap paling sesuai untuk membuat adonan karena suhu udara masih dingin. Udara yang sejuk membantu menjaga kondisi adonan agar lebih mudah dibentuk.
Proses produksi dapat berlangsung hingga menjelang siang, sekitar pukul 11.00 WIB. Lama pengerjaan bergantung pada jumlah kue yang akan dibuat pada hari tersebut.
Bahan utama kue yopia relatif sederhana, yaitu tepung terigu, minyak nabati, dan gula Jawa. Meskipun hanya menggunakan beberapa bahan, pembuatannya memerlukan ketelitian dan pengalaman agar tekstur kulit serta isiannya menghasilkan rasa yang tepat.
Adonan tepung dan minyak nabati diolah untuk membentuk kulit kue. Setelah itu, gula Jawa dimasukkan sebagai isian. Adonan kemudian dibentuk menjadi bundar sebelum masuk ke tahap pemanggangan.
Tetap Dibentuk Menggunakan Tangan
Sebagian besar tahapan pembuatan kue yopia masih dilakukan secara tradisional. Proses mengaduk bahan, membagi adonan, memasukkan gula Jawa, dan membentuknya menjadi bundar dikerjakan menggunakan tangan.
Keterampilan tangan menjadi bagian penting karena setiap adonan harus mempunyai ukuran dan ketebalan yang sesuai. Kulit yang terlalu tipis dapat membuat gula keluar saat dipanggang, sedangkan kulit yang terlalu tebal dapat memengaruhi tekstur dan keseimbangan rasanya.
Perubahan hanya terlihat pada proses pemanggangan. Jika dahulu dilakukan menggunakan peralatan tradisional, kini para pembuat kue yopia telah menggunakan oven. Penggunaan oven membantu menghasilkan tingkat kematangan yang lebih merata tanpa menghilangkan karakter asli kue tersebut.
Oleh-Oleh Khas Lasem yang Terus Dilestarikan
Kue yopia tidak hanya dicari menjelang perayaan Imlek. Dalam kesehariannya, kue ini juga menjadi salah satu oleh-oleh khas Lasem yang diburu wisatawan dari berbagai daerah.
Bentuknya yang sederhana, rasa gula Jawa yang khas, dan sejarah panjang di balik pembuatannya memberikan daya tarik tersendiri. Setiap kue menjadi bagian kecil dari perjalanan keluarga Tan Tjiem Liang sekaligus gambaran kehidupan masyarakat multikultural di Lasem.
Di tengah berkembangnya berbagai makanan modern, keberadaan kue yopia menunjukkan pentingnya menjaga resep keluarga dan keterampilan tradisional. Upaya para penerusnya membuat warisan kuliner berusia ratusan tahun ini tetap dikenal dan dapat dinikmati oleh generasi sekarang.
Jika ingin melihat lebih dekat proses pembuatan kue yopia, mencicipinya langsung, dan menjelajahi Pecinan Karangturi, Anda dapat mengikuti perjalanan wisata bersama Rumah Merah Heritage Lasem. Setelah berkeliling menikmati kekayaan sejarah dan kuliner Lasem, Anda juga dapat menginap di Rumah Merah Heritage Lasem dan merasakan suasana bangunan bersejarah di tengah kota yang penuh keberagaman budaya.