Lontong tuyuhan merupakan salah satu kuliner khas Rembang, Jawa Tengah, yang memiliki hubungan erat dengan sejarah Lasem dan penyebaran agama Islam di wilayah tersebut. Sekilas, makanan ini menyerupai opor ayam. Perbedaannya terletak pada kuah lontong tuyuhan yang mempunyai cita rasa lebih pedas karena menggunakan cabai merah dan berbagai rempah pilihan.
Selain kuahnya yang pedas dan gurih, lontong tuyuhan memiliki ciri khas pada bentuk lontongnya. Lontong dibungkus menggunakan daun pisang, kemudian dibentuk segitiga menyerupai ketupat dan dikaitkan dengan tiga tusuk lidi. Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, bentuk dan tiga tusuk lidi tersebut berkaitan dengan nilai-nilai yang bersumber dari ajaran sunah Rasul.
Asal-usul Lontong Tuyuhan
Nama lontong tuyuhan berasal dari Desa Tuyuhan, sebuah desa di Kecamatan Pancur, Kabupaten Rembang. Di desa inilah kuliner tersebut dipercaya pertama kali berkembang dan kemudian dikenal luas sebagai salah satu makanan tradisional khas Rembang.
Pada awalnya, lontong tuyuhan merupakan hidangan manakib yang disajikan kepada para santri Mbah Jumali. Beliau dikenal sebagai salah satu tokoh ulama yang berperan dalam penyebaran agama Islam di wilayah Lasem dan sekitarnya. Makam Mbah Jumali kini berada di kawasan Masjid Jami’ Lasem.
Berdasarkan cerita yang diwariskan secara turun-temurun, lontong tuyuhan bukan hanya menjadi hidangan bagi para santri. Makanan ini juga menjadi bagian dari perjalanan dakwah Mbah Jumali serta perjuangan masyarakat Lasem pada masa perlawanan terhadap Belanda.
Perjalanan Mbah Jumali ke Selatan Lasem
Ketika wilayah Lasem menghadapi serangan Belanda, Mbah Jumali bersama para santrinya berjalan menuju bagian selatan Lasem. Mereka kemudian mencari tempat di pinggiran sungai dan mendirikan sebuah gubuk kecil.
Gubuk tersebut digunakan sebagai tempat berkumpul dan mempersiapkan pertahanan apabila serangan bergerak menuju wilayah selatan Lasem. Di tempat yang sama, Mbah Jumali tetap menjalankan kegiatan dakwah dan mengajarkan ilmu agama kepada para santrinya.
Dalam kegiatan tersebut, Mbah Jumali sering menyajikan hidangan manakib berupa lontong, ayam kampung, dan kuah opor bercita rasa pedas. Hidangan sederhana inilah yang kemudian dikenal oleh masyarakat sebagai lontong tuyuhan.
Lontong Tuyuhan sebagai Bagian dari Strategi Perjuangan
Menurut sejarah lisan masyarakat setempat, para penjual lontong tuyuhan dahulu membawa dagangannya menggunakan pikulan. Mereka berjalan dari satu kampung ke kampung lainnya untuk menjajakan makanan.
Cara berjualan dengan pikulan tersebut dipercaya pernah digunakan sebagai bentuk penyamaran pada masa pergolakan dan perlawanan masyarakat Lasem terhadap Belanda. Melalui cara ini, para pejuang dapat berbaur dengan masyarakat sekaligus mengamati keadaan di sekitar wilayah Lasem.
Dengan demikian, lontong tuyuhan tidak hanya mempunyai nilai kuliner dan keagamaan, tetapi juga menyimpan cerita tentang strategi perjuangan masyarakat pada masa itu.
Tradisi Lontong Tuyuhan yang Masih Dipertahankan
Dahulu, lontong tuyuhan banyak dijual di gubuk-gubuk sederhana yang berada di pinggir sawah. Hidangan ini biasanya dinikmati bersama es dawet yang manis dan menyegarkan. Perpaduan lontong berkuah pedas dengan es dawet menjadi pengalaman kuliner yang khas bagi masyarakat Tuyuhan dan Rembang.
Seiring perkembangan zaman, tempat dan cara penyajian lontong tuyuhan mulai berubah. Kini, wisatawan dapat lebih mudah menemukan penjual lontong tuyuhan di kawasan Desa Tuyuhan. Meskipun demikian, cita rasa dan beberapa tradisi dalam proses pengolahannya masih terus dipertahankan.
Salah satu tradisi tersebut berkaitan dengan sebuah batu yang berada di pinggiran sungai Desa Tuyuhan. Konon, Mbah Jumali selalu mencuci ayam yang akan diolah di atas batu tersebut. Hingga sekarang, batu itu dipercaya masih digunakan oleh sebagian pedagang lontong tuyuhan untuk mencuci ayam sebelum dimasak.
Kuliner yang Menyimpan Sejarah dan Nilai Dakwah
Lontong tuyuhan bukan sekadar makanan tradisional khas Rembang. Kuliner ini menyimpan kisah tentang dakwah Mbah Jumali, kehidupan para santri, dan perjuangan masyarakat dalam mempertahankan Lasem.
Melalui makanan, Mbah Jumali menjalankan strategi dakwah yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Hidangan yang awalnya diberikan kepada para santri tersebut kemudian diwariskan dari generasi ke generasi hingga menjadi salah satu identitas kuliner Kabupaten Rembang.
Keberadaan lontong tuyuhan menunjukkan bahwa makanan tradisional dapat menyimpan sejarah, nilai keagamaan, dan perjalanan budaya suatu daerah. Menikmati lontong tuyuhan tidak hanya memberikan pengalaman mencicipi kuliner khas, tetapi juga menjadi salah satu cara untuk mengenal sejarah Lasem dan masyarakat Rembang.
Jika ingin mencicipi lontong tuyuhan sekaligus menjelajahi berbagai destinasi sejarah dan budaya di Lasem, Anda dapat mengikuti perjalanan wisata bersama Rumah Merah Heritage Lasem. Setelah berkeliling menikmati pesona Lasem, Anda juga dapat menginap di Rumah Merah Heritage Lasem dan merasakan suasana bangunan bersejarah yang menjadi bagian dari kekayaan budaya kota ini.