Lasem dikenal sebagai kota kecil di pesisir utara Jawa yang memiliki sejarah panjang serta kekayaan budaya yang istimewa. Salah satu tradisi yang masih dijaga oleh masyarakat Tionghoa di Lasem adalah Cio Ko, yang juga dikenal sebagai Sembahyang Rebutan. Tradisi ini bukan sekadar kegiatan keagamaan, tetapi juga menjadi bagian dari identitas budaya Lasem yang tumbuh melalui perjumpaan berbagai komunitas.
Cio Ko merupakan tradisi penghormatan kepada leluhur dan arwah yang dilaksanakan pada bulan ketujuh dalam penanggalan Imlek. Dalam tradisi masyarakat Tionghoa, periode ini menjadi waktu untuk mengenang mereka yang telah meninggal serta mendoakan arwah yang tidak lagi memiliki keluarga untuk memberikan penghormatan.
Prosesi biasanya dilakukan dengan menyiapkan persembahan berupa makanan, minuman, buah-buahan, beras, kebutuhan pokok, hio, lilin, dan perlengkapan sembahyang lainnya. Persembahan tersebut memiliki makna simbolis sebagai ungkapan penghormatan, rasa bakti, kepedulian, dan harapan agar para leluhur memperoleh ketenteraman.
Istilah Sembahyang Rebutan berasal dari kegiatan pembagian persembahan setelah seluruh rangkaian doa selesai. Makanan dan kebutuhan pokok yang sebelumnya digunakan sebagai persembahan kemudian diberikan kepada masyarakat sekitar. Dalam pelaksanaannya, masyarakat berkumpul untuk menerima barang-barang tersebut sehingga tradisi ini dikenal luas dengan sebutan “rebutan”.
Di balik suasananya yang meriah, terdapat nilai sosial yang kuat. Pembagian persembahan memperlihatkan semangat berbagi kepada sesama, terutama kepada masyarakat yang membutuhkan. Tradisi Cio Ko mempertemukan nilai penghormatan kepada leluhur dengan kepedulian terhadap kehidupan sosial pada masa kini.